TATA CARA PELAKSANAAN KHUTBAH JUM’AT

Dalam Khutbah Jumat harus memenuhi beberapa Syarat, Rukun dan kesunnahan-kesunnahan yang telah disepakati oleh kalangan ulama.

  • Rukun Khutbah Jumat
    Berdasarkan hadits-hadits shahih, terdapat beberapa rukun khutbah Jum'at yang tidak boleh ditinggalkan, antara lain:
  1. Membaca Tahmid. Contohnya,

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

2. Membaca Tasyahhud atau Syahadat. Contohnya,

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

3. Membaca Sholawat pada Nabi Muhammad. Contohnya,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

4. Memberikan wasiat taqwa. Contohnya,

اِتَّقُوا اللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقوُنَ

5. Membaca sebagian atau beberapa ayat Al-Qur’an. Contohnya,

أَعُوْذُبِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّلِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَا صَوْا باِلصَّبْرِ(3).
باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرٌ رَحِيْم.

6. Menutup dengan membaca doa untuk kaum muslimin. Contohnya,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

  • Tata Cara Khutbah Jum'at
    Adapun secara teknis tata cara pelaksanaan khutbah jum'at yang mudah dan sesuai syariat seperti berikut:
  1. Khotib berdiri ke mimbar dan mengucapkan salam,
    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
  2. Khotib duduk, sambil menunggu dan mendengarkan Adzan
  3. Mu’adzin mengumandangkan Adzan.
  4. Khotib berdiri dan berkhutbah.
    Sebaiknya langsung memenuhi rukun khutbah semuanya agar terselamatkan dari lupa atau rukun yang tertinggal.
    Hadirin jama’ah sholat Jum'at yang dirahmati Allah, ...
    Lalu silahkan dilanjutkan dengan materi, ulasan atau pembahasan sesuai dengan tema yang dipilih.
  5. Setelah itu, khutbah pertama ditutup dengan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Misal,
    أعوذباالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.
    والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين أمنوا وعملوا الصلحت وتوى صو بالحق وتوى صو باالصبر.
    بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الأيت والذكر الحكيم. إنه هو الغفور رحيم.
  6. Khotib duduk di kursi yang telah disediakan.
  7. Khotib berdiri lagi dan khutbah yang kedua dengan singkat atau bisa juga kesimpulan dari khutbah pertama dan berdo’a sebagaimana contoh doa di atas, kemudian ditutup dengan bacaan :
    عِبَادَاللهِ : إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِاْلعَدْلِ وَاْلِإحْسَانِ وَإِيْتاَئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْلِي عَلَى نِعَمِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.
  8. Disaat membaca do’a, khotib diharapkan mengangkat tangan kanan dan mengacungkan jari telunjuk. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
  9. Setelah selesai semua Khutbah kedua, tidak usah ditutup dengan salam, tapi Khotib langsung menuju pengimaman dan menjadi Imam untuk Sholat Jumat 2 rokaat. Pada Rokaat pertama setelah Fatihah membaca Surat Al-A’la, dan di Rokaat kedua setelah fatihah membaca surat Al-Ghosiyah.

  • Catatan penting seputar tata cara khutbah Jum'at

Beberapa hal penting berikut ini perlu diketahui oleh seorang khotib, antara lain:

  1. Khusus Khutbah Jumat dilakukan 2 kali, dan dilakukan terlebih dahulu dari pada Sholat jumatnya.
  2. Untuk khutbah Idul Fitri, Idul Adha, Khutbah Kusuf/Khusuf, dan Khutbah istisqo’, Sholatnya didahulukan baru ditutup dengan Khutbah.
  3. Khutbah-khutbah tersebut (selain Khutbah Jumat) dilakukan hanya satu kali, namun rukunnya disamakan dengan khutbah Jumat.
  4. Khusus khutbah nikah tidak perlu diawali ataupun diakhiri dengan sholat.
  5. Khutbah maksimal 20 menit,dan sebaiknya Sholatnya lebih panjang dari pada Khutbahnya.
  6. Hindari materi khutbah yang berbau SARA, politik praktis, mengkritik pemerintah secara sepihak, atau masalah khilafiyah Furu’iyyah.
  7. Pahami situasi dan kondisi masjid serta karakter jamahnya.

Referensi. Himpunan Putusan tarjih, Terbitan Suara Muhammadiyah Yogyakarta, cetakan ke-xxxi, September 2015. Hal. 120-121 dan 142-148.

  • Tips Memilih dan Menyajikan Materi Khutbah Jumat
  1. Pilih tema sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengamalan pendengar tentang Islam
  2. Pilih tema sesuai kebutuhan pendengar.
  3. Cari tema baru yang padat-berisi dan mencerahkan.

  • Tips Menyajikan Tema
  1. Pilih salah satu tema yang anda inginkan. Anda bisa mengambil tema dari satu bab dalam sebuah buku, atau dari inspirasi sendiri.
  2. Pilih ayat-ayat al-Qur’an berkenaan dengan tema tersebut yang paling mencakup dan mengena.
  3. Pilih hadits-hadits yang paling mencakup yang menjelaskan masalah yang diangkat. Anda bisa menggunakan program kumpulan hadits atau buku-buku hadits shahih yang hari ini sudah banyak diterjemahkan.
  4. Cari keterangan ulama yang gamblang dalam menjelaskan tafsir atau syarh (penjelasan) dari tema, untuk dinukil dalam teks khutbah. Keterangan ulama ini bisa didapat dari tafsir ayat terkait atau penjelasan syarh hadits yang dinukil. ini akan memperkuat nilai ilmiyah sebuah ceramah.
  5. Cari kisah-kisah dari para ulama salaf atau bisa juga kisah nyata hari ini sesuai tema anda. Usahakan –jika memang ada- dalam khutbah kita ada satu atau dua nukilan kisah sebagai gambaran implementasi dari tema. Orang Arab mengatakan, “bil mitsal tattadhihul maqal” dengan contoh, penjelasan akan menjadi gamblang.
  6. Akan lebih unik jika mampu membuat semacam analogi atau perumpamaan pada keterangan yang anda sampaikan. Bagi yang memiliki pengetahuan dalam bahasa Jawa atau Arab misalnya, disana ada banyak permisalan yang bisa digunakan.
  7. Ada baiknya menghafal ayat atau hadits yang akan dijadikan rujukan utama.
    Ini akan membantu menggenjot performa dan kepercayaan diri anda, juga menambah kemantapan para pendengar. Meskipun membawa materi khutbah lengkap, sebaiknya jangan terlalu terkungkung dengan teks. Menghafal ayat, hadits, atau cerita akan lebih mengesankan.
  8. Soal referensi tidak harus disebutkan terlalu detail.
    Jika hadits cukup disebutkan riwayat siapa, tidak perlu sampai menyebutkan nomor dan halaman. Jika nukilan dari buku, cukup sebutkan dari buku apa atau penulisnya. Yang penting kita yakin bahwa yang kita sampaikan memiliki rujukan valid meski tidak kita sampaikan. Sebab, ini khutbah bukan makalah, waktunya singkat dan yang dibutuhkan audiens adalah materi yang langsung bisa dicerna.
  9. Hindari memilih tema yang dimaksudkan untuk menyindir seseorang.
    Tema semacam ini rawan rancu dan tidak bisa dipahami oleh hadirin karena mereka tidak memahami konteks. Hindari pula mencela kelompok/organisasi Islam lain secara spesifik, kecuali yang memang terbukti sesat, juga memuji atau mencela secara berlebihan dan emosional.

Brebes, 31 Maret 2026