- Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يٌعَافِيْكَ اللَّهُ مِنْهُمَا
tarkul ‘amali min ajlinnaasi riyaa’un, wal ‘amalu min ajlinnaasi syirkun, wal ikhlaashu ayyu’aafiikalloohu minhumaa.
Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah Allah menyelamatkan dirimu dari dua hal itu (mengerjakan atau meninggalkan sesuatu karena manusia). [Tazkiyatunnafs: 17].
__________________________________________________________________________________
- Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
rubba ‘amalin shoghiirin tu’adhimuhunniyyatu, wa rubba ‘amalin kabiirin tushoghghiruhunniyyatu.
Berapa banyak amalan kecil menjadi besar pahalanya karena niat, dan berapa banyak pula amal besar menjadi kecil karena niat. [Jami'ul Ulum walhikam : 12]
__________________________________________________________________________________
- Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata:
المُخْلِصُ مَنْ يَكْتُمُ حَسَنَاتَهُ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتَهُ
al-mukhlishu man yaktumu hasanaatahu kamaa yaktumu sayyi’aatahuu.
Orang yang ikhlas adalah siapa saja yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan segala keburukannya. [Tazkiyatunnafs : 17].
__________________________________________________________________________________
- Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata:
العَمَلُ بِغَيْرِ إِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابَهُ رَمْلاً، يُثْقِلُهُ وَ لاَ يَْفَعُهُ
al-’amalu bighoiri ikhlaashin walaa iqtidaa’in, kalmusaafiri yamla’u jiroobahuu romlan, yutsqiluhuu walaa yanfa’uhuu.
Amal yang dilakukan tanpa keikhlasan dan meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bagaikan seorang musafir yang memenuhi kantongnya dengan pasir, pasir itu memberatkan dirinya dan tidak memberi manfaat apa-apa baginya. [Al-Fawa’id: 55]
__________________________________________________________________________________
Harim bin Hayyan pernah berkata kepada Uwais Al-Qarni rahimahullah, “Nasihatilah aku”. Beliau menjawab: “Jadikanlah kematian sebagai bantalmu saat kamu tidur, dan jadikanlah ia di pelupuk matamu. Jika kamu bangun, berdoalah kepada Allah untuk memperbaiki hati dan niatmu. Kamu tidak akan pernah mampu mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati hati dan niat. Adakalanya hatimu bersamamu tetapi niatmu malah berpaling darimu, dan adakalanya hatimu berpaling namun niatmu datang menghampiri. Dan janganlah kamu melihat kepada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.” [Shifatush-shafwah, III/55].
__________________________________________________________________________________
Hikmah dari beberapa untaian kata mutiara para ulama di atas adalah sebagai berikut :
- Niatkan segala perbuatan kita ikhlas (murni) hanya untuk mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala.
- Larangan berbuat riya dan syirik.
- Tidak meremehkan amalan kecil.
- Wajib untuk meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
- Anjuran menyembunyikan kebaikan.
- Selalu ingat akan kematian.
- Jangan melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa anda bermaksiat.



