Tercatat ada lima upaya pembunuhan yang gagal terhadap Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa dan sejumlah menterinya selama tahun 2025, menurut laporan ke-22 sekretaris jenderal PBB tentang ancaman ISIS.
Dua dari lima upaya pembunuhan yang menargetkan presiden terjadi di Aleppo dan Daraa. Aksi itu dilakukan oleh Saraya Ansar al-Sunnah, sebuah kelompok yang secara tidak resmi berfungsi sebagai kaki tangan ISIS.
Hal tersebut membuat ISIS mampu menyangkal pertanggungjawaban sekaligus meningkatkan jangkauan operasional mereka. Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa meskipun ada upaya kontra-terorisme koalisi, sel-sel ISIS mempertahankan kehadiran aktif di seluruh wilayah Suriah.
Serangan terus terkonsentrasi terhadap pasukan keamanan, khususnya di wilayah utara dan timur laut, termasuk satu operasi yang menargetkan pasukan gabungan Suriah-AS personel koalisi.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa ISIS sengaja berupaya mengobarkan ketegangan sektarian melalui serangan terhadap tempat-tempat ibadah, dengan tujuan melemahkan otoritas nasional.
Diperkirakan 3.000 pejuang ISIS masih beroperasi di seluruh Irak dan Suriah, dengan sebagian besar berbasis di Suriah. Meskipun gurun Suriah bukan lagi benteng utama kelompok tersebut, wilayah itu tetap memiliki signifikansi strategis.
Suriah secara resmi bergabung dengan koalisi anti-ISIS pada November 2025—sebuah perubahan signifikan, karena Damaskus dikecualikan dari aliansi yang dibentuk pada tahun 2014 selama pemerintahan sebelumnya.
Sejak jatuhnya rezim Assad pada akhir tahun 2024, pemerintahan Suriah yang baru telah memprioritaskan pengetatan kondisi keamanan nasional. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun mengalami kemunduran operasional, ISIS mempertahankan niat dan kemampuan untuk mengeksploitasi perpecahan politik dan sektarian.

